|
|
|||||
|
|
|||||
|
BAB 7 TEORI BELAJAR
BEHAVIORISTIK Teori belajar menurut aliran ini adalah: -
Hasil belajar tidak disebabkan oleh kemampuan internal manusia tetapi karena
faktor stimulus yang menimbulkan respon. - Agar hasil belajar optimal, maka
stimulus harus dirancang sedemikian rupa sehinga mudah direspon siswa. - Siswa akan memperoleh hasil
belajar apabila dapat mencari hubungan antara stimulus dan respon tersebut. Macam-macam teori belajar menurut
aliran ini adalah: 1. Teori belajar Classical
Conditioning Teori ini
dikembangkan oleh Ivan Pavlov. Dia mempelajari bagaimana anjing percobaannya
menjadi terkondisi untuk berliur walau tanpa makanan. Dari eksperimen
tersebut Pavlov menarik kesimpulan bahwa dalam diri anjing akan terjadi
pengkondisian selektif berdasar atas penguatan selektif. Anjing dapat
membedakan stimulus yang disertai dengan penguatan dan stimulus yang tidak
disertai dengan penguatan. 2. Teori Operant Conditioning Teori ini
dikembangkan oleh Burr Federic Skinner. Dia memandang bahwa manusia sebagai
mesin yang bertindak secara teratur dan dapat diramalkan responnya terhadap
stimulus yang datang dari luar. Skinne mengadakan eksperimen dengan
menggunakan kotak yang didalamnya terdapat pengungkit, pemampung makanan,
lampu, lantai dengan grill yang dialiri listrik (dikenal dengan nama Skinner
box). Skinner menggunakan tikus lapar sebagai hewan percobaannya.
Berdasarkan eksperimen tersebut dapat ditarik kesimpulan: - Setiap respon yang diikuti dengan penguatan (reward atau reinforcing stimuli) cenderung akan diulang kembali. - Reward atau reinforcing stimuli akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon. 3. Modelling dan Observational
Learning Bandura
mengembangkan 4 tahap melalui pengamatan atau modeling - tahap perhatian => Individu memperhatikan model yang menarik, berhasil, atraktif dan populer. - tahap retensi => Bila guru telah mendapat perhatian dari siswa,
guru memodelkan perilaku yang akan ditiru oleh siswa dan memberi kesempatan
kepada siswa untuk mempraktekkannya atau mengulangi model yang telah
ditampilkan. -
tahap reproduksi => Siswa mencoba
menyesuaikan diri dengan perilaku model. - tahap motivasional => Siswa akan menirukan model karena
merasakan bhwa melakukan pekerjaan yang baik akan meningkatkan kesempatan
untuk memperoleh penguatan. Konsep penting
lainnya dari teori belajar ini adalah pengaturan diri (self-regulation).
Dalam kegiatan belajar ini, individu mengamati perilakunya sendiri, menilai
perilakunya sendiri dengan standar yang dibuat sendiri, dan memperkuat atau
menghukum diri sendiri apabila berhasil ataupun gagal dalam berperilaku. 4. Teori Koneksionisme Teori ini
dikembangkan oleh Edward Thorndike. Dia menggunakan kucing sebagai hewan
percobaan. dalam eksperimennya, dia menghitung waktu yang dibutuhkan kucing
untuk dapat keluar dari kandang pecobaan (puzzle box). Menurut Thorndike,
dasar dari belajar adalah trial dan error. Hewan percobaan itu
menunjukkan adanya penyesuaian diri dengan lingkungannya sedemikian rupa
sebelum hewan percobaan tersebut dapat melepaskan diri dari kandang
percobaan. Selanjutnya dikemukakan bahwa perilaku dari semua hewan percobaan
itu praktis sama. Thorndike
mengemukakan 3 macam hukum belajar, yaitu: a.
Hukum kesiapan Agar proses belajar mencapai hasil
yang baik, maka perlu kesiapan dalam belajar. Ada 3 keadaan yang menunjukkan
berlakunya hukum ini, yaitu: - Apabila individu memiliki kesiapan untuk bertindak atau berperilaku dan dapat melaksanakannya, maka dia akan puas. - Apabila
individu memiliki kesiapan untuk bertindak atau berperilaku tapi tidak dapat
melaksanakannya, maka dia akan kecewa. - Apabila individu tidak memiliki
kesiapan untuk bertindak atau berperilaku dan dipaksa untuk melaksanakannya,
maka akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan. b.
Hukum latihan Hubungan antara stimulus dan respon akan menjadi kuat apabila sering dilakukan latihan. c.
Hukum akibat Apabila sesuatu memberikan hasil yang
menyenangkan atau memuaskan, maka hubungan antara stimulus dan respon akan
menjadi semakin kuat. 5. Teori Modifikasi Perilaku
Kognitif Meichenbaum
menyatakan bahwa individu dapat diajarkan untuk memantau dan mengatur
perilakunya sendiri. Cara yang digunakan yaitu melatih individu yang
terganggu emosionalnya untuk membuat dan menjawab pertanyaannya sendiri. Ada
5 tahap kegiatan belajar mandiri yang dikembangkan Meichenbaum, yaitu: a. Model orang dewasa
melakukan tugas tertentu sambil berbicara dengan keras (Modeling kognitif) b. Anak melakukan tugas yang sama di bawah arahan pembelajaran dari model (Bimbingan eksternal) c. Anak melakukan tugas
sambil membelajarkan diri sendiri. d. Anak membelajarkan
dirinya sendiri dengan cara berbicara pelan pada saat melanjutkan tugas. e. Anak melakukan tugas
untuk mencari kinerja tertentu dengan melakukan percakapan diri sendiri. Teori belajar
modifikasi perilaku koginitif ini menekankan pada modeling percakapan diri
sendiri secara meningkat berpindah dari perilaku yang dikendalikan oleh orang
lain kepada perilaku yang dikendalikan oleh diri sendiri, di mana individu
menggunakan percakapan diri sendiri pada waktu melaksanakan tugas. 6. Teori belajar Conditioning Guthrie menyatakan
bahwa semua belajar dapat diterangkan dengan satu prinsip, yaitu prinsip
asosiasi. Belajar merupakan suatu upaya untuk menentukan hukum-hukum,
bagaimana stimulus dan respon itu berasosiasi. Guthrie menyatakan bahwa respon
dapat menimbulkan stimuli untuk respon berikutnya. Perilaku manusia merupakan
deretan perilaku yang terdiri atas unit-unit reaksi atau respon dari stimulus
berikutnya. Konsekuensi yang
menyenangkan pada umumnya disebut sebagai penguat (reinforces), dan
yang tidak menyenangkan disebut sebagai hukuman (punishers). Sumber:
Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi
Pendidikan. Semarang: Unnes Press |
|||||
|
|
|||||